Kamis, 02 Oktober 2014
OST by
THE MASTER’S SUN
Drama korea yang dibintangi oleh So Ji Sub dan Gong Hyo Jin menurutku adalah drama best of the year tahun 2013 sampe saat ini, oppa So Ji Sub dan Unnie Gong hyo jin benar-benar berakting dengan sempurna dengan scriptwriter idolaku. Karena drama yang apik maka OSTnya pun akan terlihat apik. salah satunya adalah yang kutulis ini "Driving Me Crazy". lengkapnya ini dia,
Driving
Me Crazy
Hyorin ‘Sistar’
Deutgo
innayo nae mameul
Bogo
innayo nae nunmureul
I
sesangi hana oroji dan hana
Nan
neoyeoyaman haneundeu
Apakah kau mendengar hatiku?
Apakah kau melihat airmataku?
Hanya satu di dunia, hanya satu
Wae
jakku naegesseo domangchinayo
Wae
jaku naegesseo meoreojinayo?
Nae
gyeote isseojyeo nae soneul jabajwoyo
Nal
saranghandamyeon
Mengapa kau terus lari dariku?
Mengapa kau terus menjauh dariku?
Tetaplah disisiku pegang tanganku
Jika kau mencintaiku
Reff:
Michige mandeuro niga
Nal ulge mandero niga
Gakai sone japhildeutae jabeumyeon
meoreojineun baramcheoreom
Kau membuatku giila
Kau buatku menangis
Kau seolah dekat dan aku dapat menangkapmu,
tapi ketika kucoba kau menjauh seperti angin
Honjaseo haneunge sarang
Namneun geon nunmurin sarang
Geureon geojigateun geureon babogateun sarang
Cinta adalah apa yang aku lakukan sendiri
Cinta hanya daun dari airmata
Hanya seperti itu, cinta yang konyol
Hanbeunman
geudaereul anado dwenayeo
Majimak
insareul na haedo dwaenayeo
Saranghaetdon
chueogeul haeng bokhaetdeon giegeoul itji marayeo
Bisakah kau memelukku sekali saja?
Bisakah kau mengucapakan slaam terakhir padaku?
Jangan lupakan kenangan cinta, kenangan bahagia
Back to Reff
Eonjega
uri dasi mannaneun geunal
Geuttae
uri heeojijimayo
Suatu hari jika kita beryemu lagi
Jangan mengucapkan selamat tinggalss
Gaseumi
haneun mal saranghae
Nunmuri
haneun mal mianhae
Amuri
juwodaamgo damabwadossodajyeobeorineun malcheoreom
Kata hatiku mengatakan aku mencintaimu
Kata-kata yang mengatakan air mataku, aku minta maaf
Tak peduli bagaimana aku menahannya, akhirnya tumpah
Honjaseo
haneunge sarang
Namneun
geon nunmurin sarang
Geureon
geojigateun geureon babogateun sarang
Cinta adalah apa yang aku lakukan sendiri
Cinta hanya daun dari air mata
Hanya seperti itu, cinta yang konyol
JOO
JONG WON <3 TAE GONG SHIL
SO JI SUB
<3 GONG HYO JIN
Joo-gun Uii Tae-Yang
Selasa, 20 Mei 2014
masjid sapuro pekalongan
KAJIAN PENELITIAN
“SEJARAH MASJID JAMI’ AULIA’’ SAPURO DAN JEJAK PENINGGALANNYA DI
KOTA PEKALONGAN”
Disusun untuk memenuhi tugas :
Sejarah Peradaban Islam
Dosen Pengampu : Drs. Slamet Untung, M. Pd.
Di susun oleh :
Hikmatul Maulida (2021112047)
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM
NEGERI
(STAIN) PEKALONGAN
2013
A.
Pendahuluan
Proses Islamisasi
tidak mempunyai awal yang pasti, juga tidak berakhir. Islamisasi lebih
merupakan proses berkesinambungan yang selain mempengaruhi masa kini, juga masa
yang akan datang. Islam telah dipengaruhi oleh lingkungannya, tempat Islam
berpijak dan berkembang, salah satunya Pulau Jawa. Di samping itu, Islam juga
menjadi tradisi tersendiri yang tertanam dalam konteks sosio-ekonomi dan
pendidikan.
Sejarah menurut
‘Kamus Besar Bahasa Indonesia’ adalah silsilah, asal usul, keturunan. Kejadian
dan peristiwa yang benar-benar terjadi pada masa lampau, riwayat : peristiwa
penting yang benar terjadi, cerita yang berdasarkan pada kejadian-kejadian yang
benar terjadi (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 0000: 794).
Secara
etimologis asal kata sejarah berasal dari kata syajarah yang artinya
pohon, namun dalam bahasa Arab biasa disebut tarikh, yang mempunyai arti
ketentuan masa atau waktu. Sedang dalam bahasa Inggris disebut history
yang berarti uraian secara tertib tentang kejadian-kejadian masa lampau, atau
yang lebih populer untuk menyebut sejarah dalam ilmu pengetahuan tentang
gejala-gejala alam khususnya manusia yang bersifat kronologis. Sejarah dalam
kehidupan manusia dibagi menjadi dua yaitu yang pertama sejarah ilmiah yaitu
suatu peristiwa atau kejadian yang dapat dibuktikan dengan metode ilmiah, dan
bertujuan memberikan makna serta penjelasan tentang faktor-faktor terjadinya
peristiwa dengan analisisnya menggunakan konsep serta teori yang relevan
(Fatikhah, 2011: 2).
Selain membicarakan tentang sejarah, kita juga akan membicarakan tentang
seni, terlebih lagi tentang seni Islam. Menurut Hillenbrand seperti dikutip
Leaman (2005) arsitektur Islam ditandai dengan kesepakatan yang kuat. Dia
menjelaskan beberapa tema tentang bagaimana arsitektur ditafsirkan, dan menolak
generalisasi yang serampangan. (Leaman, 2005: 36)
Sebuah sudut pandang lain diberikan oleh seorang penulis seni Islam
terkemuka, Oleg Grabar: Tetapi ada sisi lain dari penafsiran apapun atas
tradisi tertentu. Yaitu, apakah sifat-sifat “universal” yang dinisbahkan pada
artefaknya itu dijustifikasi di dalam batasan internal, diakronis, atau
historis, dari budaya itu sendiri.... Orang mesti mengasumsikan bahwa budaya
klasik masyarakat Muslim Abad Pertengahan atau pra modern mempertimbangkan
isu-isu yang sama dan menarik kesimpulan-kesimpulan yang sama (Leaman, 2005:
33) penemuan seni Islam sebagai bagian dari gerakan orientalis pada abad ke-19
menghasilkan sebuah proses besar dalam upaya mendefinisikan Islam sebagai “yang
lain” (the Other), dengan cara-cara yang sejak saat itu sangat familiar
(Leaman, 2005: 57).
Artikel ini diharapkan dapat mengantarkan tulisan ini diharapkan dapat
membantu pembaca untuk menambah wawasan. Oleh karena itu, pembahasan didalamnya
akan bersifat konseptual dan teoritik, sehingga fungsi praktis pembahasan
diharapkan dapat memberikan kejelasan terhadap tulisan lain yang bersifat
faktual.
B.
Pengenalan
Sejarah Masjid Aulia’’
1)
Pengertian Masjid.
Masjid berarti tempat ibadah. Diketahui pula kata,
masgid ditemukan dalam sebuah inskripsi dari abad ke-5 sebelum masehi yang
berarti “tiang suci” Menurut Ismail seperti dikutip Handryant (2010), secara
akar katanya masjid berasal dari bahasa arab Sajada-Yasjudu yang artinya sujud.
Dalam konteks yang lebih luas sujud merupakan sebuah ekspresi dari kepatuhan
dan ketaatan seorang hamba kepada tuhannya. Sujud adalah kemuncak kepatuhan dan
penghinaan diri (Handryant, 2010: 18) Masjid adalah tempat orang Muslim berkumpul.
Sembahyang lima waktu ditambah lagi sembahyang jum’at membuatnya menjadi tempat
yang lebih luas. Masjid adalah pula tempat mengumumkan hal-hal penting yang
menyangkut hidup masyarakat Muslim (Gazalba, 1994: 127).
Dalam halaman yang lain dikatakan mesjid merupakan
tempat mengajarkan, membicarakan, menyimpulkan semua pokok kehidupan Islam.
Kehidupan Islam itu terperinci dalam tiga hal : agama, antropologi dan
kebudayaan. Atau dikenal dengan ibadat, takwa dan muamalat. Masjid itu adalah
tempat suci maka segala ucapan, pelaku perbuatan yang dikerjakkan didalamnya
wajiblah suci pula sifatnya, yakni dilahirkan oleh takwa. Oleh karena itu tidak
sembarang kegiatan boleh dilakukan di Masjid. (Gazalba, 1994: 135) pada masa Rasulullah
masjid adalah pusat dari berbagai kegiatan masyarakat Muslim, ia menjadi pusat
dari berbagai kegiatan politik, sosial-masyarakat, pendidikan bahkan kebudayaan
(Handryant, 2010: 21).
Ibnu katsir dalam tafsirnya Tafsir Ibnu Katsir
jilid 6 menjelaskan bahwa dalam qur’an surah an-nur ayat 36-37
disebutkan bahwa masjid merupakan tempat yang paling disukai oleh Allah SWT.
Masjid-masjid yang manusia perintahkan untuk memelihara dan manjaga kebersihannya
dari kotoran dan dari perkataan atau perbuatan sia-sia. Kata bertasbih dapat
diartikan sebagai sholat dan dzikrullah. (Handryant, 2010: 54).
2)
Gambaran Masjid Aulia’’
a. Masjid Aulia’ tampak depan
Masjid Aulia’’ ini memiliki corak yang hampir mirip
dengan Masjid Agung Demak, sederhana namun penuh dengan arsitektur jawa, mempunyai
warna dasar putih dengan sedikit sentuhan warna coklat pada tiap-tiap pintu dan
tiang penyangganya. Di serambi sebelah kirinya terdapat bedug kuno yang
berwarna hijau. Dan tepat di depan masjid sebelah kirinya terdapat pohon
beringin yang sangat besar. Sehingga membuat halaman dan sekeliling masjid
menjadi rindang. Masih di sebelah kiri masjid bagian depan terdapat bangunan
berwarna hijau-putih yang kesehariannya digunakan untuk kegiatan belajar Madrasah Diniyah.
Di depan masjid sebelah kanan terdapat pondok
pesantren yang dibangun sejak 1982 M. bangunan tersebut masih didominasi warna
hijau-putih juga, dan tepat di depan seberang jalan terdapat kantor yayasan Aulia’’.
Yang mengurusi berbagai urusan Masjid, Pondok Pesantren dan Madrasah Diniyah.
Bangunan tersebut masih didominasi warna hijau-putih.
b. (kiri atas-kanan bawah)bedug dan masjid tampak
kiri, bangunan ponpes, kantor dan pohon beringin, masjid tampak kanan.
3)
Lokasi Masjid Aulia’’
Kelurahan sapuro adalah nama tempat desa dimana
masjid Aulia’ berdiri dengan kokoh, kawasan ini termasuk di kawasan wilayah
kecamatan pekalongan barat kotomadya dati II pekalongan, merupakan suatu desa
yang terkenal, dengan adanya makam Islam yang terbesar di seluruh pekalongan.
Separuh lebih dari kelurahan ini adalah makam/kuburan.yang menurut sejarahnya makam
tersebut adalah tanah wakaf. Tak hanya terkenal karna separuh wilayahnya adalah
kuburan, makam ini juga di huni oleh orang-orang sekelas bupati.
Makam Sapuro yang letaknya dekat dengan jalur
pantura ini laksana magnet bagi warga kota pekalongan. Bagaimana tidak??
Kompleks pemakaman umum ini menjadi salah satu tujuan wisata religius
dikarenakan di kompleks pemakaman ini terdapat Makam seorang sayyid ahmad yang
masih keturunan langsung Nabi Muhammad. Nama lengkapnya Al habib Ahmad bin
Abdullah bin Tholib Al Athas.
Tepatnya jika anda memasuki kompleks pemakaman, maka
anda terus berjalan lurus ke arah timur dan membelok ke utara, maka di situlah
anda akan menemukan masjid Aulia’’ ini bersamaan dengan pondok, madrasah dan
kantornya. Sejatinya letak Masjid ini di kelilingi oleh komplek pemakaman dan
tepat di seberangnya sebelah timur terdapat sungai.
Secara geografisnya masjid Aulia’’ yang berada di sapuro
ini di batasi atau berbatasan langsung dengan beberapa daerah lainnya, seperti
sebelah utaranya berbatasan dengan desa Kergon, sedangkan sebelah baratnya
berbatasan dengan desa Bendan, dan sebelah Selatannya terdapat jalan raya Pantura,
dan berbatas dengan desa Kebulen.
4)
Fungsi Masjid Aulia’’
Fungsi Masjid Aulia’’ ini sebenarnya tidak jauh
berbeda dengan fungsi Masjid-masjid pada kebanyakannya. Senada dengan yang
dikemukakan handryant (2010) Masjid bukan hanya bangunan fisik saja, namun ia
seharusnya menjadi sebuah institusi pembangunan masyarakat yang tidak hanya
berkutat dalam aspek ibadah ritual saja. Masjid sebaiknya dirancang agar dapat
memfasilitasi berbagai kegiatan dan fasilitas seperti sekolah, perpustakaan dan
lainnya agar masyarakat lebih merasa ikut memakmurkannya (Handryant, 2010: 37).
Yusuf Qardhawi pun mengatakan hal yang demikian
dalam bukunya, Tuntunan Membangun Masjid, bahwa Masjid hendaklah dapat
mencerdaskan umat dan memberikan orientasi dakwah, yang bisa dilakukan dalam
khotbah jum’at, sekaligus salah satu syarat keabsahan shalatnya dan merupakan
nasihat mingguan yang bersifat mendidik baik itu seperti kajian tentang
kewajiban-kewajiban yang harus dilakukan oleh kaum muslimin ataupun kajian
keislaman lainnya. Dengan demikian masjid sebagai pusat cahya dan petunjuk bagi
masyarakat yang ada di sekitarnya (Qardhawi, 2000: 6)
Oleh karenanya, selain sebagai tempat ibadah, Masjid
Aulia’’ ini juga menjadi tempat pelaksanaan kegiatan pendidikan Islami, baik
pondok pesantren ataupun Madrasah Diniyah. Kyai Dananir mengungkapkan selain
untuk ponpes dan Diniyah masjid ini mengadakan pengajian rutin yang dipimpinnya
sendiri dan juga sering mengadakan bahtsu masail antar kiai dan ustadz masjid.
“ Yah selain untuk itu (Ponpes dan Diniyah) sih di Masjid ini juga ada
pengajian rutin untuk bapak-bapak dan ibu-ibu setempat, itu ya jamnya ya ba’da
shubuh sekitar jam 7 sampai 8 pagi ” ujarnya.
Di dalam al-Qur’an terdapat beberapa ayat yang
memberikan anjuran untuk menjadikan masjid tidak hanya sebagai tempat sholat
semata melainkan juga mewadahi berbagai tempat sholat semata melainkan juga
mewadahi berbagai kegiatan muamalah.
C.
Sejarah
Masjid Aulia’’ Sapuro
Agama Islam di hilir Pantura Pekalongan diperkirakan
telah mulai dikenal sejak beberapa ratus tahun silam. Hal ini dapat dilihat
dari bukti berdirinya Masjid Aulia’ yang berada di kawasan kompleks pemakaman
sapuro, Pekalongan Barat. Menurut Kiai Dananir selaku pengurus Masjid Aullia,
Masjid ini Dibangun sekitar Tahun 1135 H berarti Masjid ini telah berdiri kokoh
sejak 300 tahun yang lalu. Wow, sudah 3 abad yang lalu.
Cuaca kota pekalongan sebenarnya memang tergolong
panas dengan keadaan penuh dengan kendaraan dan padat penghuni ini, akan terasa
berbeda ketika kita sudah memasuki area Masjid Aulia’’, semilir angin menambah
udara yang menerpa kita menjadikan hawa sejuk. Masjid ini sering menjadi tempat
tujuan wisata atau bahkan hanya untuk singgah sejenak, setelah dari kompleks
makam yang ada disekitarnya, sebab di kompleks pemakaman tersebut banyak
tokoh-tokoh besar yanng dimakamkan di sana. Diantaranya, Habib Ahmad Al Athas,
Pangeran Adipati Aryo Notodirjo, Bupati Pasuruan Raden Tumenggung Amongnegoro
dan para sesepuh lainnya.
Menurut Kiai Dananir, untuk bangunan Masjid, Masjid
inilah yang tergolong tua di kota Pekalongan, penuh dengan nilai sejarah
penyebaran islam di pulau jawa. Hal ini dapat dilihat pada kayu-kayu untuk
bangunan masjid Aulia’ yang berasal dari sisa pembangunan Masjid Demak masa
Walisongo. Selain itu menurut sebuah sumber arsip daerah Kota Pekalongan,
masjid ini jauh lebih tua dari Masjid dibanding Masjid Agung Pekalongan
sendiri. Hanya sebagai perbandingan, Masjid Kauman dibangun pada tahun 1852 M
atau setara dengan 1274 H oleh arsitek jawa yang bernama Raden Tumenggung Wirjo
Adinegoro. Maka sudah jelas Masjid Aulia’ pada tahun 1135 H dan masjid kauman
pada tahun 1274 H.
Masjid yang mempunyai luas sekitar 1500an meter ini
pada awalnya tidak di bangun di daerah sapuro, melainkan akan dibangun di Alas
roban oleh ke-empat Tokoh Alim yang masih keturunan Demak, yakni, mbah Kiai
Ma’shum, mbah Kiai Sulaiman, mbah Kiai Luqman dan mbah Nyai Tudung. Beliau
berempatlah yang menjadi cikal bakal lahirnya masjid Aulia’ ini. “ Jadi,
awalnya Mereka berempat ini sudah membangunan pancuran air untuk wudhu
di Alas Roban, ketika pekerjaan sedang berjalan mereka ini sholat istikhoroh nyuwun
ing Gusti Allah untuk diberi petunjuk ingin membangun Masjid disitu
(red-Alas Roban-), setelah mereka ini istikhoroh, salah satu dari mereka
mendapat petunjuk bahwa jika mereka membangun disini kelak tidak akan ada
penghuninya hingga muncullah dalam mimpinya daerah sapuro ini” ujar Kiai
Dananir panjang lebar.
“Sampai sekarang pancurannya masih ada, kalo
mau dilihat bisa, Dulu sebelumnya namanya ‘Galuh Rantai’ baru sekarang ini
diganti Masjid Aulia’’ karena terletak disekitar daerah para wali” imbuhnya.
Masjid ini tetap berdiri kokoh hingga saat ini karena rajin di renovasi tiap
ada tanda ketidakberesan bangunan, renovasi itupun tanpa meninggalkan kesan
sejarah dan seni arsitekturnya. Terakhir renovasi adalah pada tahun 2011 lalu.
Kondisi Masyarakatpun menerima dengan sangat baik
adanya Masjid ini, baik sebelum apalagi sesudahnya, dulunya daerah sapuro ini
adalah daerah yang sama seperti yang lainnya perkampungan biasa yang terletak
di daerah hilir dengan jalan transportasi air. Konon, sungai disebelah timur Masjid
ini dahulunya adalah jalan transportasi air yang sangat strategis untuk para
pedagang yang lalu lalang berdatangan.
Ditambahkan, bahwa dulunya, awal perjalanan syiar
dakwah oleh keempat tokoh ini dari Alas Roban hingga menemukan daerah Sapuro
adalah utusan dakwah dari tokoh ulama kerajaan DemakBintoro melalui pesisir
pantura.
D.
Peninggalan-peninggalan
Bersejarah dari Masjid Aulia’’
Peninggalan sejarah Masid ini sejatinya ada empat
Benda Namun ada 2 Ukiran (Kaligrafi Kayu) dan saya satukan menjaddi satu judul
saja. Berikut keterangannya:
1.
Mimbar.
Mimbar adalah tempat berdiri imam untuk menyampaikan
Khotbah Jum’at, yang merupakan Mau’izah ’nasihat’ mingguan yang wajib, yang
menjadi syarat bagi sahnya shalat Jum’at. Khotbah Juma’at terdiri atas dua
bagian: Khotbah pertama dan kedua. Dalam banyak hadits diriwayatkan bahwa
mimbar itu mempunyai tiga undakan atau tiga anak tangga (Qardhawi, 2000: 85)
Dengan berlandaskan sebuah riwayat kaum muslimin
kini berpendapat bahwa kita harus berpegang padda mimbar yang seperti itu.
Sebenarnya, hal ini sunnah fi’liyah dan hanya menunjukkan kebolehan menggunakan
mimbar itu. Sementara tidak ada keharusan membuat mimbar dengan tiga anak
tangga dan tidak boleh lebih dari itu (Qardhawi, 2000: 87).
Menurut sejarah yang diperoleh dari Kiai Dananir,
Mimbar untuk berkhotbah yang ornamen ukir-ukiran lengkap dengan trap tangganya,
layaknya masjid-masjid tua ternyata mimbar ini merupakan hadiah dari Kerjaan
Demak Bintoro pada masa Walisongo. Bahkan hal ini diperkuat dengan adanya bukti
dari mimbar tersebut berupa prasati ukiran tahun dibuat mibar ini. Yang disitu diterangkan bahwa
mimbar itu dibuat pada tahun 1208 Hijriyah.
2.
Ukiran (Kaligrafi Kayu).
Masjid ini mempunyai prasati
3.
Mustaka
Langganan:
Komentar (Atom)