Selasa, 20 Mei 2014

masjid sapuro pekalongan

KAJIAN PENELITIAN
“SEJARAH MASJID JAMI’ AULIA’’ SAPURO DAN JEJAK PENINGGALANNYA DI KOTA PEKALONGAN”
Disusun untuk memenuhi tugas        : Sejarah Peradaban Islam
Dosen Pengampu                              : Drs. Slamet Untung, M. Pd.
           
Di susun oleh :
Hikmatul Maulida (2021112047)

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
(STAIN) PEKALONGAN
2013
A.   Pendahuluan
Proses Islamisasi tidak mempunyai awal yang pasti, juga tidak berakhir. Islamisasi lebih merupakan proses berkesinambungan yang selain mempengaruhi masa kini, juga masa yang akan datang. Islam telah dipengaruhi oleh lingkungannya, tempat Islam berpijak dan berkembang, salah satunya Pulau Jawa. Di samping itu, Islam juga menjadi tradisi tersendiri yang tertanam dalam konteks sosio-ekonomi dan pendidikan.
Sejarah menurut ‘Kamus Besar Bahasa Indonesia’ adalah silsilah, asal usul, keturunan. Kejadian dan peristiwa yang benar-benar terjadi pada masa lampau, riwayat : peristiwa penting yang benar terjadi, cerita yang berdasarkan pada kejadian-kejadian yang benar terjadi (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 0000: 794).
Secara etimologis asal kata sejarah berasal dari kata syajarah yang artinya pohon, namun dalam bahasa Arab biasa disebut tarikh, yang mempunyai arti ketentuan masa atau waktu. Sedang dalam bahasa Inggris disebut history yang berarti uraian secara tertib tentang kejadian-kejadian masa lampau, atau yang lebih populer untuk menyebut sejarah dalam ilmu pengetahuan tentang gejala-gejala alam khususnya manusia yang bersifat kronologis. Sejarah dalam kehidupan manusia dibagi menjadi dua yaitu yang pertama sejarah ilmiah yaitu suatu peristiwa atau kejadian yang dapat dibuktikan dengan metode ilmiah, dan bertujuan memberikan makna serta penjelasan tentang faktor-faktor terjadinya peristiwa dengan analisisnya menggunakan konsep serta teori yang relevan (Fatikhah, 2011: 2).
Selain membicarakan tentang sejarah, kita juga akan membicarakan tentang seni, terlebih lagi tentang seni Islam. Menurut Hillenbrand seperti dikutip Leaman (2005) arsitektur Islam ditandai dengan kesepakatan yang kuat. Dia menjelaskan beberapa tema tentang bagaimana arsitektur ditafsirkan, dan menolak generalisasi yang serampangan. (Leaman, 2005: 36)
Sebuah sudut pandang lain diberikan oleh seorang penulis seni Islam terkemuka, Oleg Grabar: Tetapi ada sisi lain dari penafsiran apapun atas tradisi tertentu. Yaitu, apakah sifat-sifat “universal” yang dinisbahkan pada artefaknya itu dijustifikasi di dalam batasan internal, diakronis, atau historis, dari budaya itu sendiri.... Orang mesti mengasumsikan bahwa budaya klasik masyarakat Muslim Abad Pertengahan atau pra modern mempertimbangkan isu-isu yang sama dan menarik kesimpulan-kesimpulan yang sama (Leaman, 2005: 33) penemuan seni Islam sebagai bagian dari gerakan orientalis pada abad ke-19 menghasilkan sebuah proses besar dalam upaya mendefinisikan Islam sebagai “yang lain” (the Other), dengan cara-cara yang sejak saat itu sangat familiar (Leaman, 2005: 57).
Artikel ini diharapkan dapat mengantarkan tulisan ini diharapkan dapat membantu pembaca untuk menambah wawasan. Oleh karena itu, pembahasan didalamnya akan bersifat konseptual dan teoritik, sehingga fungsi praktis pembahasan diharapkan dapat memberikan kejelasan terhadap tulisan lain yang bersifat faktual.

B.   Pengenalan Sejarah Masjid Aulia’’
1)      Pengertian Masjid.
Masjid berarti tempat ibadah. Diketahui pula kata, masgid ditemukan dalam sebuah inskripsi dari abad ke-5 sebelum masehi yang berarti “tiang suci” Menurut Ismail seperti dikutip Handryant (2010), secara akar katanya masjid berasal dari bahasa arab Sajada-Yasjudu yang artinya sujud. Dalam konteks yang lebih luas sujud merupakan sebuah ekspresi dari kepatuhan dan ketaatan seorang hamba kepada tuhannya. Sujud adalah kemuncak kepatuhan dan penghinaan diri (Handryant, 2010: 18) Masjid adalah tempat orang Muslim berkumpul. Sembahyang lima waktu ditambah lagi sembahyang jum’at membuatnya menjadi tempat yang lebih luas. Masjid adalah pula tempat mengumumkan hal-hal penting yang menyangkut hidup masyarakat Muslim (Gazalba, 1994: 127).
Dalam halaman yang lain dikatakan mesjid merupakan tempat mengajarkan, membicarakan, menyimpulkan semua pokok kehidupan Islam. Kehidupan Islam itu terperinci dalam tiga hal : agama, antropologi dan kebudayaan. Atau dikenal dengan ibadat, takwa dan muamalat. Masjid itu adalah tempat suci maka segala ucapan, pelaku perbuatan yang dikerjakkan didalamnya wajiblah suci pula sifatnya, yakni dilahirkan oleh takwa. Oleh karena itu tidak sembarang kegiatan boleh dilakukan di Masjid. (Gazalba, 1994: 135) pada masa Rasulullah masjid adalah pusat dari berbagai kegiatan masyarakat Muslim, ia menjadi pusat dari berbagai kegiatan politik, sosial-masyarakat, pendidikan bahkan kebudayaan (Handryant, 2010: 21).
Ibnu katsir dalam tafsirnya Tafsir Ibnu Katsir jilid 6 menjelaskan bahwa dalam qur’an surah an-nur ayat 36-37 disebutkan bahwa masjid merupakan tempat yang paling disukai oleh Allah SWT. Masjid-masjid yang manusia perintahkan untuk memelihara dan manjaga kebersihannya dari kotoran dan dari perkataan atau perbuatan sia-sia. Kata bertasbih dapat diartikan sebagai sholat dan dzikrullah. (Handryant, 2010: 54).
2)      Gambaran Masjid Aulia’’
a. Masjid Aulia’ tampak depan
Masjid Aulia’’ ini memiliki corak yang hampir mirip dengan Masjid Agung Demak, sederhana namun penuh dengan arsitektur jawa, mempunyai warna dasar putih dengan sedikit sentuhan warna coklat pada tiap-tiap pintu dan tiang penyangganya. Di serambi sebelah kirinya terdapat bedug kuno yang berwarna hijau. Dan tepat di depan masjid sebelah kirinya terdapat pohon beringin yang sangat besar. Sehingga membuat halaman dan sekeliling masjid menjadi rindang. Masih di sebelah kiri masjid bagian depan terdapat bangunan berwarna hijau-putih yang kesehariannya digunakan untuk kegiatan belajar  Madrasah Diniyah.
Di depan masjid sebelah kanan terdapat pondok pesantren yang dibangun sejak 1982 M. bangunan tersebut masih didominasi warna hijau-putih juga, dan tepat di depan seberang jalan terdapat kantor yayasan Aulia’’. Yang mengurusi berbagai urusan Masjid, Pondok Pesantren dan Madrasah Diniyah. Bangunan tersebut masih didominasi warna hijau-putih.
b. (kiri atas-kanan bawah)bedug dan masjid tampak kiri, bangunan ponpes, kantor dan pohon beringin, masjid tampak kanan.
3)      Lokasi Masjid Aulia’’
Kelurahan sapuro adalah nama tempat desa dimana masjid Aulia’ berdiri dengan kokoh, kawasan ini termasuk di kawasan wilayah kecamatan pekalongan barat kotomadya dati II pekalongan, merupakan suatu desa yang terkenal, dengan adanya makam Islam yang terbesar di seluruh pekalongan. Separuh lebih dari kelurahan ini adalah makam/kuburan.yang menurut sejarahnya makam tersebut adalah tanah wakaf. Tak hanya terkenal karna separuh wilayahnya adalah kuburan, makam ini juga di huni oleh orang-orang sekelas bupati.
Makam Sapuro yang letaknya dekat dengan jalur pantura ini laksana magnet bagi warga kota pekalongan. Bagaimana tidak?? Kompleks pemakaman umum ini menjadi salah satu tujuan wisata religius dikarenakan di kompleks pemakaman ini terdapat Makam seorang sayyid ahmad yang masih keturunan langsung Nabi Muhammad. Nama lengkapnya Al habib Ahmad bin Abdullah bin Tholib Al Athas.
Tepatnya jika anda memasuki kompleks pemakaman, maka anda terus berjalan lurus ke arah timur dan membelok ke utara, maka di situlah anda akan menemukan masjid Aulia’’ ini bersamaan dengan pondok, madrasah dan kantornya. Sejatinya letak Masjid ini di kelilingi oleh komplek pemakaman dan tepat di seberangnya sebelah timur terdapat sungai.
Secara geografisnya masjid Aulia’’ yang berada di sapuro ini di batasi atau berbatasan langsung dengan beberapa daerah lainnya, seperti sebelah utaranya berbatasan dengan desa Kergon, sedangkan sebelah baratnya berbatasan dengan desa Bendan, dan sebelah Selatannya terdapat jalan raya Pantura, dan berbatas dengan desa Kebulen.
4)      Fungsi Masjid Aulia’’
Fungsi Masjid Aulia’’ ini sebenarnya tidak jauh berbeda dengan fungsi Masjid-masjid pada kebanyakannya. Senada dengan yang dikemukakan handryant (2010) Masjid bukan hanya bangunan fisik saja, namun ia seharusnya menjadi sebuah institusi pembangunan masyarakat yang tidak hanya berkutat dalam aspek ibadah ritual saja. Masjid sebaiknya dirancang agar dapat memfasilitasi berbagai kegiatan dan fasilitas seperti sekolah, perpustakaan dan lainnya agar masyarakat lebih merasa ikut memakmurkannya (Handryant, 2010: 37).
Yusuf Qardhawi pun mengatakan hal yang demikian dalam bukunya, Tuntunan Membangun Masjid, bahwa Masjid hendaklah dapat mencerdaskan umat dan memberikan orientasi dakwah, yang bisa dilakukan dalam khotbah jum’at, sekaligus salah satu syarat keabsahan shalatnya dan merupakan nasihat mingguan yang bersifat mendidik baik itu seperti kajian tentang kewajiban-kewajiban yang harus dilakukan oleh kaum muslimin ataupun kajian keislaman lainnya. Dengan demikian masjid sebagai pusat cahya dan petunjuk bagi masyarakat yang ada di sekitarnya (Qardhawi, 2000: 6)
Oleh karenanya, selain sebagai tempat ibadah, Masjid Aulia’’ ini juga menjadi tempat pelaksanaan kegiatan pendidikan Islami, baik pondok pesantren ataupun Madrasah Diniyah. Kyai Dananir mengungkapkan selain untuk ponpes dan Diniyah masjid ini mengadakan pengajian rutin yang dipimpinnya sendiri dan juga sering mengadakan bahtsu masail antar kiai dan ustadz masjid. “ Yah selain untuk itu (Ponpes dan Diniyah) sih di Masjid ini juga ada pengajian rutin untuk bapak-bapak dan ibu-ibu setempat, itu ya jamnya ya ba’da shubuh sekitar jam 7 sampai 8 pagi ” ujarnya.
Di dalam al-Qur’an terdapat beberapa ayat yang memberikan anjuran untuk menjadikan masjid tidak hanya sebagai tempat sholat semata melainkan juga mewadahi berbagai tempat sholat semata melainkan juga mewadahi berbagai kegiatan muamalah.

C.   Sejarah Masjid Aulia’’ Sapuro
Agama Islam di hilir Pantura Pekalongan diperkirakan telah mulai dikenal sejak beberapa ratus tahun silam. Hal ini dapat dilihat dari bukti berdirinya Masjid Aulia’ yang berada di kawasan kompleks pemakaman sapuro, Pekalongan Barat. Menurut Kiai Dananir selaku pengurus Masjid Aullia, Masjid ini Dibangun sekitar Tahun 1135 H berarti Masjid ini telah berdiri kokoh sejak 300 tahun yang lalu. Wow, sudah 3 abad yang lalu.
Cuaca kota pekalongan sebenarnya memang tergolong panas dengan keadaan penuh dengan kendaraan dan padat penghuni ini, akan terasa berbeda ketika kita sudah memasuki area Masjid Aulia’’, semilir angin menambah udara yang menerpa kita menjadikan hawa sejuk. Masjid ini sering menjadi tempat tujuan wisata atau bahkan hanya untuk singgah sejenak, setelah dari kompleks makam yang ada disekitarnya, sebab di kompleks pemakaman tersebut banyak tokoh-tokoh besar yanng dimakamkan di sana. Diantaranya, Habib Ahmad Al Athas, Pangeran Adipati Aryo Notodirjo, Bupati Pasuruan Raden Tumenggung Amongnegoro dan para sesepuh lainnya.
Menurut Kiai Dananir, untuk bangunan Masjid, Masjid inilah yang tergolong tua di kota Pekalongan, penuh dengan nilai sejarah penyebaran islam di pulau jawa. Hal ini dapat dilihat pada kayu-kayu untuk bangunan masjid Aulia’ yang berasal dari sisa pembangunan Masjid Demak masa Walisongo. Selain itu menurut sebuah sumber arsip daerah Kota Pekalongan, masjid ini jauh lebih tua dari Masjid dibanding Masjid Agung Pekalongan sendiri. Hanya sebagai perbandingan, Masjid Kauman dibangun pada tahun 1852 M atau setara dengan 1274 H oleh arsitek jawa yang bernama Raden Tumenggung Wirjo Adinegoro. Maka sudah jelas Masjid Aulia’ pada tahun 1135 H dan masjid kauman pada tahun 1274 H.
Masjid yang mempunyai luas sekitar 1500an meter ini pada awalnya tidak di bangun di daerah sapuro, melainkan akan dibangun di Alas roban oleh ke-empat Tokoh Alim yang masih keturunan Demak, yakni, mbah Kiai Ma’shum, mbah Kiai Sulaiman, mbah Kiai Luqman dan mbah Nyai Tudung. Beliau berempatlah yang menjadi cikal bakal lahirnya masjid Aulia’ ini. “ Jadi, awalnya Mereka berempat ini sudah membangunan pancuran air untuk wudhu di Alas Roban, ketika pekerjaan sedang berjalan mereka ini sholat istikhoroh nyuwun ing Gusti Allah untuk diberi petunjuk ingin membangun Masjid disitu (red-Alas Roban-), setelah mereka ini istikhoroh, salah satu dari mereka mendapat petunjuk bahwa jika mereka membangun disini kelak tidak akan ada penghuninya hingga muncullah dalam mimpinya daerah sapuro ini” ujar Kiai Dananir  panjang lebar.
“Sampai sekarang pancurannya masih ada, kalo mau dilihat bisa, Dulu sebelumnya namanya ‘Galuh Rantai’ baru sekarang ini diganti Masjid Aulia’’ karena terletak disekitar daerah para wali” imbuhnya. Masjid ini tetap berdiri kokoh hingga saat ini karena rajin di renovasi tiap ada tanda ketidakberesan bangunan, renovasi itupun tanpa meninggalkan kesan sejarah dan seni arsitekturnya. Terakhir renovasi adalah pada tahun 2011 lalu.
Kondisi Masyarakatpun menerima dengan sangat baik adanya Masjid ini, baik sebelum apalagi sesudahnya, dulunya daerah sapuro ini adalah daerah yang sama seperti yang lainnya perkampungan biasa yang terletak di daerah hilir dengan jalan transportasi air. Konon, sungai disebelah timur Masjid ini dahulunya adalah jalan transportasi air yang sangat strategis untuk para pedagang yang lalu lalang berdatangan.
Ditambahkan, bahwa dulunya, awal perjalanan syiar dakwah oleh keempat tokoh ini dari Alas Roban hingga menemukan daerah Sapuro adalah utusan dakwah dari tokoh ulama kerajaan DemakBintoro melalui pesisir pantura.
D.   Peninggalan-peninggalan Bersejarah dari Masjid Aulia’’
Peninggalan sejarah Masid ini sejatinya ada empat Benda Namun ada 2 Ukiran (Kaligrafi Kayu) dan saya satukan menjaddi satu judul saja. Berikut keterangannya:
1.     Mimbar.
Mimbar adalah tempat berdiri imam untuk menyampaikan Khotbah Jum’at, yang merupakan Mau’izah ’nasihat’ mingguan yang wajib, yang menjadi syarat bagi sahnya shalat Jum’at. Khotbah Juma’at terdiri atas dua bagian: Khotbah pertama dan kedua. Dalam banyak hadits diriwayatkan bahwa mimbar itu mempunyai tiga undakan atau tiga anak tangga (Qardhawi, 2000: 85)
Dengan berlandaskan sebuah riwayat kaum muslimin kini berpendapat bahwa kita harus berpegang padda mimbar yang seperti itu. Sebenarnya, hal ini sunnah fi’liyah dan hanya menunjukkan kebolehan menggunakan mimbar itu. Sementara tidak ada keharusan membuat mimbar dengan tiga anak tangga dan tidak boleh lebih dari itu (Qardhawi, 2000: 87).
Menurut sejarah yang diperoleh dari Kiai Dananir, Mimbar untuk berkhotbah yang ornamen ukir-ukiran lengkap dengan trap tangganya, layaknya masjid-masjid tua ternyata mimbar ini merupakan hadiah dari Kerjaan Demak Bintoro pada masa Walisongo. Bahkan hal ini diperkuat dengan adanya bukti dari mimbar tersebut berupa prasati ukiran tahun dibuat  mibar ini. Yang disitu diterangkan bahwa mimbar itu dibuat pada tahun 1208 Hijriyah.
2.      Ukiran (Kaligrafi Kayu).
Masjid ini mempunyai prasati
3.      Mustaka

Tidak ada komentar:

Posting Komentar